Welcome to Bali!

image

Kegelapan masih menggantung, menyelimuti langit. Ella tak bisa menutupi semangatnya. Aku hanya tersenyum. Kami hanya terpisah dua tahun tapi entah perubahan hormon apa yang terjadi pada rahim ibu kami, aku juga kurang mengerti. Tapi kenyataannya adalah perbedaan kami banyak sekali.
Terlihat jelas dari bagaimana Ella mencintai kota dan segala kemewahannya, sementara aku lebih menghargai udara segar dan kesederhanaan.

Pagi itu adalah pagi kami berangkat ke Bali. Pesawat kami dari Jakarta adalah penerbangan pertama hari itu. Aku tidak berharap banyak, tetapi aku menanti-nantikan hari ini.

Nyoman, guide kami, menyambut dengan senyuman lebar. “Welcome to Bali!” Aku membalasnya dengan senyum yang kaku, karena aku sejujurnya tidak tahu cara yang lebih baik untuk tersenyum selain dengan kaku. Ella juga tersenyum, dengan menawan, tentunya. Dia sangat menantikan kegemerlapan Bali dan kehidupan malamnya yang eksotis.

Nyoman membawa kami makan siang di salah satu restoran sederhana di dekat bandara. Ella mulai merengut. Dia jelas tidak mengharapkan ini.
Kami juga menyusuri jalan dengan perlahan sambil memperhatikan kegiatan penduduk setempat. Saat berhenti sejenak untuk menyaksikan upacara Ngaben di tepi jalan, Ella hanya menutup matanya dengan kesal dan tidur di dalam mobil.

Kerutan Ella makin dalam saat Nyoman mengajak kami mengunjungi tanah Lot dengan segala keindahannya pada sore hari.
Awalnya aku tidak menyadarinya karena mata dan pikiranku terlalu sibuk mencoba menyerap segala keindahan di sekelilingku.
Kapan lagi melihat birunya laut menyerang karang yang menopang sebuah pura? kapan lagi merasakan angin laut bertiup begitu tegas dan menenangkan?
Tetapi Ella hanya membuntuti aku dengan kesal. Kakinya terus dihentakkan di waktu aku berusaha belajar lebih jauh tentang tempat ini dengan mendengarkan penjelasan Nyoman dan mengikuti Nyoman menjelajah tanah Lot.
Setelah beberapa saat, kami mulai mendaki melewati kios-kios kecil penjual kerajinan tangan dan sampai di daerah yang lebih tinggi, tempat restauran berderet dan menawarkan bermacam-macam makanan dan minuman. Nyoman mendekatiku saat Ella dengan kesal menghempaskan diri ke kursi terdekat.
“Bli, adiknya kenapa? dari tadi mulai dari selesai ngaceng (makan) sampai kemari wajahnya kesal terus.. sedang sakit ya?”
Mendengar pertanyaan Nyoman, aku hanya bisa kembali tersenyum dengan kaku. “Memang begitu dia Bli Nyoman, kalau lelah. Biarkan aja nanti juga bisa senyum sendiri.” Nyoman mengangguk-angguk dan duduk bersama kami.

Ella menolak untuk pergi ke tujuan wisata lain, dan memutuskan untuk duduk diam di kursinya dan menyibukkan diri dengan gadget-gadgetnya. Aku tidak keberatan, sebab sedang di adakan upacara adat di tanah Lot, syukuran bayi yang mencapai umur tiga bulan. Aku menyaksikan upacara tersebut dengan penuh minat walaupun tidak bisa mendekat karena Ella tidak mau ditinggal sendirian.

Waktu berlalu, dan matahari mulai turun. Nyoman yang sejak tadi telah menemaniku dan menceritakan banyak hal tentang Bali padaku meminta permisi untuk ke toilet dan untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba Ella mengerang. “Welcome to Bali? Bali kok kaya nyampah gini? Gue kesini malah disuguhin hal ga jelas dan boring gini. Welcome to my ass kali ya maksudnya?” Ella mengumpat dan melanjutkan omelannya. “Kakak juga. Bisa-bisanya keranjingan cuma ngeliatin laut sama pura? apaan sih. Mending kalo arsitekturnya memukau banget atau lautnya cakep banget. Biasa banget tau gak? Ga jelas pula. Norak banget ini penduduknya. Bikin perayaan-perayaan cuma buat ngehibur turis trus dapet duit kan? cih!”
Aku terdiam. Entah mengapa aku merasa sedih karena kata-kata adikku.
Saat itulah aku baru menyadari orang-orang telah beramai-ramain berdiri di tepi air dan tebing. Matahari mulai terbenam.
Aku menunjuk ke arah matahari, dan Ella mengikuti pandanganku.

“Nah. One thing you should know Ella. To be welcomed artinya semuanya terbuka, siap dilihat, siap dinikmati. Setiap detik, setiap menit yang indah sudah Bali tawarkan buat kita. Yang bikin aku bisa menikmati adalah karena aku mau. Semuanya memang indah kok kalau kita juga mau terbuka dan lihat keindahannya.”

~
Sudah jelas tampaknya. Ella hanya merengut lebih dalam sore itu dan menampar lenganku, mengata-ngataiku karena berkata-kata terlalu bijak. Tapi saat Nyoman datang kembali di meja kami, Ella mentraktir kami bertiga es kelapa muda dan meminta Nyoman mengambil gambar kami berdua dengan latar belakang pura tanah Lot dan sunset yang sangat menawan.
Di hari berikutnya kami juga kembali mengunjungi pura-pura lain. Dan Ella tetap merengut. Tetapi dia merengut hanya karena aku sering menolak mengambil gambar bersamanya. norak ah.

Advertisements

4 thoughts on “Welcome to Bali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s