Lost and Found

Udara disini sangat sejuk. Aku suka. Tapi sudah lima belas menit aku duduk di depan toilet menunggu kakak, tapi dia tidak keluar-keluar. Nyoman, guide kami, juga tidak terlihat dimanapun. Aku sudah mencoba menelepon mereka tapi tidak ada respon.

Aku akhirnya memutuskan untuk berkeliling. Setelah melilitkan kain di pinggangku, akupun melangkah memasuki gerbang pura uluwatu.

Baru saja aku melangkah masuk, tiba-tiba seekor kera menerjangku dan merenggut kacamata hitamku. Aku berseru kaget. Kacamaya favoritku!!! Sial. Monyet sialan!! Aku berdiri mematung dibalut shock. Aku seharusnya berlari menghindar tapi aku hanya bisa berdiri tak berdaya, mengamati monyet-monyet nakal yang sepertinya menertawakan aku sambil memainkan kacamataku.. dan mematahkannya. Wajahku berubah dari pucat pasi menjadi merah padam.

Tiba-tiba pundakku ditepuk. Jangan bilang ini ulah kera busuk lagi!! aku langsung berjengit dan melompat, membalik badan, siap menyerang dan berteriak.

“Hiaa-”
“Ella?”

Aku hampir menendang laki-laki itu tetapi berhenti di detik terakhir.

“eh? Martin? kok..?”
“Halo..”

Martin. Memang sih, sebelumnya seorang temanku bilang Martin akan berada di Bali. Tapi bertemu dengannya disini terasa aneh. Aku tanpa pertahanan. Maksudku, hubungan kami kan sedang buruk-buruknya!

“Sendirian?”
“engga. Tadi ada kakak sama bli Nyoman.. tapi hilang orangnya. gak tau kemana.”

Martin tersenyum, dan tanpa menunggu apapun mengajakku berjalan mengelilingi pura yang begitu luar biasa.
Saat kami mendaki tangga ke atas, terlihat di samping kami tebing curam yang bagian bawahnya langsung disambut ombak yang biru indah, bening dan menenangkan. Semakin ke atas, makin tidak terlihat adanya kera. Akupun merasa lebih rileks.

Di puncak tangga, tempat utama untuk sembahyang dipisahkan dengan sebuah gapura dan pagar. Aku mendengarkan guide kelompok lain menjelaskan bagaimana pura ini difungsikan. Setiap orang yang akan melakukan upacara harus menaiki tangga dan memasuki ruang pertama, ruang persiapan. Di bagian itu, orang-orang akan duduk diam untuk menenangkan diri dan menyiapkan dupa dan sesajen. Setelah hati, pikiran, dan badannya tenang, barulah ia akan memasuki ruang utama tempat beribadah. Pada intinya, yang diajarkan umat Hindu dalam ritual ini adalah untuk tenang sebelum beribadah. Hati yang tenang akan memperkaya diri.

Saat kembali turun dan menyusuri tangga serta anjungan pura yang menghadap ke laut, aku merenung. Sudah sangat lama sejak aku mengingat Tuhan sebagai sosok yang disembah dengan sungguh dan khidmat. Di tempat ini aku merasakan betapa agungnya Dia dan betapa patutnya Ia disembah. Aku memandang ke bawah, tempat tebing bertemu laut, mengamati ombak yang begitu indah. Aku terpukau luar biasa.

Tuhan yang Agunglah yang menciptakan segenap keindahan ini. Umat Hindu di Bali menyanjung hasil karyaNya dengan sepatutnya. Pura yang didirikan dengan begitu megah dan penuh penghormatan di setiap detailnya memberikan contoh yang luar biasa. Bagaimana manusia seharusnya menyembah Tuhannya. Bagaimana hidup adalah anugerah yang harus dinikmati dengan terus mengingat sang pencipta.

Aku merinding. Air mataku hampir meleleh turun, menyesali keadaanku yang selama ini menganggap enteng segalanya. Mungkin sudah saatnya aku kembali menenangkan diri dan menemui Tuhan.

Martin hanya diam di sepanjang perjalanan. Dia hanya berbicara sedikit tentang pemandangan yang mengagumkan. Tampaknya kami berdua butuh kedamaian. Dan aku rasa dia juga menemukannya disini.

Advertisements

One thought on “Lost and Found

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s