The Nation’s Little Girl

image

Kemarin akhirnya Martin bergabung dengan kelompok kami untuk melakukan tour bersama-sama. Sepanjang hari kami berbincang-bincang ringan. Menyenangkan. Aku hampir lupa bahwa hubungan kami bermasalah.

Pagi ini anggota kelompok kami berangkat menuju pura tirta empul, yang terletak di Tampaksiring, Ubud.

Di perjalanan, Nyoman menceritakan legenda daerah tersebut.

“Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Mayadenawa. Beliau sakti namun berhati jahat. Ia memerintahkan rakyat untuk menyembah dirinya dan bukan menyembah dewa-dewa, serta membawakan sesajianpun tidak boleh. Bagi yang melakukannya, Mayadenawa akan menjatuhkan hukuman mati. Bharata Indra marah akan hal ini, dan iapun mengirimkan balatentaranya untuk mengejar Mayadenawa. Tapi Mayadenawa lari ke dalam hutan dan berjalan dengan telapak kaki dimiringkan, supaya tidak dikira jejak kaki manusia. Dari sanalah muncul kata Tampak Siring yang maksudnya adalah Telapak yang Miring.”

Nyoman terus melanjutkan kisah bagaimana Mayadenawa dengan licik meracuni mata air sehingga pasukan Indra mati. Tetapi Indra mengamuk dan menancapkan panahnya ke tanah, mengakibatkan keluarnya mata air baru dengan mengepul-ngepul, yang menyembuhkan pasukannya dari racun Mayadenawa. Indra akhirnya mampu menghabisi Mayadenawa. Mata air yang mengepul itu akhirnya disebut Tirta Empul karena airnya yang mengepul, dan dipercaya oleh umat Hindu Bali sebagai air yang mempu membersihkan dan menyucikan diri.

Saat kami tiba di lokasi, seperti biasa jika masuk ke tempat suci, kami diwajibkan memakai selendang atau sarung. Setelah itu kamipun ditunjukkan tempat tinggal presiden, jembatan perdamaian/persahabatan dan tempat tinggal tamu-tamu negara.

image

Setelah diajak berkeliling dan mengambil beberapa foto, kami kembali ke pelataran di bawah tempat tinggal presiden.

Saat kami sedang berbicara dan dijelaskan, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil berlari menuruni tanggal dari arah tempat tinggal tamu negara.

“mau mandiiiiiiii!!”

Kami semua tertegun saat anak tersebut berlari kencang ke arah kami dan menabrak Martin sampai keduanya terjungkal ke belakang, dengan Martin memeluk anak tersebut. Wajah keduanya dan posisi mereka sangat konyol, dan aku tak dapat menahan tawaku. Segera kakak dan Nyoman membantu keduanya kembali berdiri. Kelihatannya anak itu shock.

Aku mendekati anak itu.
“kamu siapa? kok lari-lari sendiri?”
“aku anak pesiden!! aku mau mandiiiii!”

hah? anak presiden?
anak itu menunjuk-nunjuk pemandian air suci dan hendak berlari ke arahnya.

“Kakak ikut siniii!” Tiba-tiba ia menarik tanganku. Lagi-lagi kami jadi bingung dan kaget.

Kemarin ditarik monyet, sekarang anak kecil??

“eh.. Adik tidak boleh mandi disitu. Itu bukan tempat mandi!” Nyomanpun membantuku dengan menarik anak itu sebelum melarikan diri.

“tapi om tante itu kok boleh??” si anak menunjuk sepasang suami istri yang sedang melaksanakan ritual pembersihan diri dan mandi di bawah pancuran air suci.

image

“tidak boleh. Mereka itu sedang berdoa, bukan mandi-mandi..” Kakakpun membantu menjelaskan.

“kita kasih makan ikan saja yuk?” Nyoman mengajak anak itu dan menggandengnya. Aku menggandeng tangan satunya dan mengikuti Nyoman memasuki daerah kolam ikan. Kami membelikannya sebungkus makanan ikan sekalipun dia masih protes. Anak itupun langsung tampak bersemangat setelah memberi makan ikan. Tidak lupa ia memaksa kami untuk membantunya dan mengoceh serta menjerit-jerit setiap kali ikan-ikan memakan makanan yang dilemparkan.

image

“Angel!! aduh, kamu kok bisa ada disini??” seorang wanita mendekati kami dengan tergopoh-gopoh. Diapun memperkenalkan diri sebagai penjaga anak tadi, yang ternyata bernama Angel. Sayang kelakuannya tidak terlalu seperti malaikat.

Beliau menjelaskan bahwa Angel selalu menyebut dirinya anak presiden, tetapi kenyataannya tidak begitu. Entah siapa yang berbohong aku juga tidak tahu.

Kamipun segera berpamitan dengan wanita itu, karena kami akan melanjutkan perjalanan. Saat kami akan berpamitan dengan Angel, tiba-tiba dia menangis.

“Angel mau ikut kakak! mau ikut kakak!!”
Oh tidak. Bagaimana ini…..

~
“Dinginn!! hihihi.. kakak, fotonya udahan! Aku laper!”

Kami sedang berada di Kintamani, dan aku sudah lelah. Angel terus mengoceh sepanjang jalan, dan Nyomanpun dengan semangat meladeninya. Aku. Benar. Benar. Capek.

Setelah mengambilkan makanan untuk Angel dan diriku sendiri, akupun duduk di meja kami di balkon restauran, tepat di tepi gunung Batur yang luar biasa indah. Kakak dan Nyoman masih berfoto ria.

image

Tiba-tiba Martin berada di belakangku, memijat pundakku dengan lembut sambil tertawa kecil, memperhatikan tingkah Angel yang konyol saat mencoba menggigit ayamnya. Aku akhirnya ikut tertawa juga. Entahlah apakah Angel merujuk pada malaikat terang atau justru malaikat kematian. Tapi aku mulai bisa menyukai anak ini. Angel mengingatkanku akan diriku sendiri saat masih kecil, begitu rewel dan menyusahkan, tetapi sangat polos dan menyenangkan. Satu lagi, tentu saja aku juga menyukai kepiawaian Martin memijat, karena aku langsung merasa segar.

Setelah selesai makan dan menuruti Angel untuk berfoto dengan anjing ras Kintamani, kami melanjutkan perjalanan ke Celuk, tempat pengrajin perak dan emas yang paling ternama di Bali.

Sambil menggandeng Angel, aku dan Martin berkeliling melihat-lihat isi toko. Semuanya yang dijual disitu dijual dalam USD. Tetapi bagi pembeli lokal, diberi diskon 50%. Aku hampir berjingkrak kesenangan saat mendengarnya. Tidak hanya itu, jika masih ingin menawar, diskonnya bisa melebihi 50%! Jika tidak puas, perak tersebut dapat dijual kembali di daerah ini.

“Ella. Lihat ini.” Martin menunjuk sebuah kalung yang tampak seperti di dongeng-dongeng dengan bandul bermotif yang sangat indah. Angel langsung merengek minta kugendong untuk ikut melihatnya.
Wanita pegawai toko langsung mengeluarkan kalung tersebut dari etalase kaca dan menawariku untuk mencobanya.
Angel bersorak kegirangan saat Martin membantuku memasang kalung dan mengambil Angel dari lenganku.

“Cantiiiik! kaya Cinderellaaaa!!” Angel bersorak kegirangan. Suster Angel yang juga turut ikut dari tadi pagi hanya tersenyum misuh-misuh, mencoba menegur Angel, namun dibalas dengan juluran lidah Angel yang sangat lucu.
Saat kami melihat harganya, aku hanya bisa tersentak kaget. Melebihi satu juta rupiah..!? Walaupun didiskon, tetap saja.. Aku langsung meletakkan kalung itu kembali. Yang benar saja.

Kamipun melanjutkan perjalanan ke Galuh, tempat penjualan batik dan lain-lain dengan kualitas baik. Angel bersorak kegirangan saat aku memilihkan batik dan pakaian-pakaian lain untuknya. Aku juga dibantu Angel memilihkan batik untuk Kakak dan Martin. Seledai berbelanja, Nyoman membawa kami ke belakang toko untuk melihat rumah adat Bali. Ia menjelaskan bagian-bagian rumah, dan peraturan tentang arah mata angin sebagai penentu letak bangunan.

Saat kami akan kembali ke mobil, tiba-tiba Angel melepaskan pegangan tanganku dan berlari ke arah jalan raya. Aku tersentak kaget dan langsung mengejarnya. Martin juga turut berlari mengikutiku. Nyoman, kakak dan susternya Angel sudah di dalam mobil, sontak langsung berusaha keluar mengejar kami.

“Angel!! mau kemana?? jangan lari ke jalan!”
Aku langsung berlari membabi buta ke arah Angel. Angel sudah di tengah jalan raya!! Dengan singkat aku sudah di belakang Angel dan mengangkatnya, walaupun dia meronta-ronta. Terdengar suara klakson mobil besar di samping kami. Mati aku.
Tiba-tiba sesuatu menabrakku dan mendorongku ke tepi jalan. Sambil memeluk Angel, aku berusaha menyeimbangkan diri. Aku sudah berada di tepi jalan. Terengah-engah, aku mencoba melihat ke belakangku. Sambil juga terengah-engah, Martin berusaha tersenyum padaku.
“Yang barusan itu keren.”
Aku langsung ingin menjitak. Martin dan Angel. Dua-duanya perlu dijitak.
Aku langsung mengomel panjang lebar. Tapi Martin malah mengajak Angel tos. Oh Tuhan.

Suster Angel langsung menegur Angel, dan Angel manut-manut, berjanji tidak mengulangi hal barusan. Rupa-rupanya, Angel melihat sebuah toko besar di seberang Galuh, dan ingin kesana. Kami akhirnya menuruti kemauannya.

Kami harus mengembalikan Angel ke Tirta Empul. Di perjalanan, Angel tertidur pulas di pangkuanku. Wajahnya yang kecil dan menggemaskan terlihat sangat cantik. Seharian ini dia merepotkanku. Tapi dia juga yang membantu aku dan Martin mencairkan interaksi kami. Dia juga membuat kakak sangat tersentuh saat ia memetik kamboja dan menyelipkan bunga itu ke telinganya, lalu mengecup pipi kakak. Kakak yang biasanya sangat maskulin langsung mati kutu. Sudah lama aku tidak pernah melihat kakak seperti itu. Aku ternyata justru merasa senang dengan keberadaan Angel. Mungkin sebenarnya memang dia adalah seorang malaikat surga.. yang berjalan di bumi dengan jejak dimiringkan. Dia menolong kami semua lebih menikmati perjalanan ini dan mewarnai hari ini. Aku bersyukur dia bersama kami.

Sesampainya di pura tersebut, tampak beberapa mobil patroli dan orang-orang yang tampaknya adalah anggota tentara atau apalah. Mungkin sedang ada tamu negara. Tapi setelah turun dari mobil dan menyerahkan Angel yang tidur di pangkuanku pada pengasuhnya, tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian resmi menghampiri kami dan menyalami kami.
Dia mengambil Angel ke pelukannya dan masuk kembali. Aku hanya bengong.

Suster Angel mendekati kami dan angkat bicara.
“Terimakasih, mas dan mbak sekalian, karena sudah menemani Angel seharian ini. Dia memang sangat ingin melihat-lihat Bali. Maaf ya sudah merepotkan. Sebetulnya Angel memang adalah anak salah satu tamu penting negara. Kami hampir kehilangan akal untuk menemukan cara untuk mengendalikannya. Tapi anda sudah menolong saya. Terimakasih. Ini sedikit oleh-oleh, sebagai bentuk rasa terimakasih saya dan segenap keluarga Angel.”

Kami semua terbelalak kaget. Yang benar saja?!

Saat pengasuh itu membuka blazernya sedikit untuk mengeluarkan beberapa kotak kecil dari kantungnya, kulihat pistol menggantung di pinggangnya, dan pisau kecil di kantung dalam blazernya. Aku tercenung.

Dia menyerahkan kotak-kotak tersebut dan memohon pamit. Kami masih terbengong-bengong saat berkendara kembali.
Kotak itu berisi perhiasan-perhiasan yang tadi kami lihat di Celuk.

Memang dasar malaikat kecil.

Advertisements

4 thoughts on “The Nation’s Little Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s