Bapak

Setelah beberapa menit, tendangan yang sudah kutunggu akhirnya muncul juga. Diikuti oleh teriakan penuh emosi. Lalu jitakan di kepala. Dan terakhir, cubitan di lengan.

Aku sebetulnya tidak sedang berkelahi dengan siapapun. Bukan pula adu kekuatan. Aku cuma tidur, di kelas yang ‘salah’.

“Saya sudah pernah peringatkan kamu sebelumnya, saya tidak main-main! Ke ruang guru sekarang! Dasar kutu kampret! Biar malu orangtuamu punya anak tidak bisa diatur seperti kamu!!” sambil menggiringku ke ruang guru, Pak Bowo terus melanjutkan lantunan kata-kata kasarnya. Aku menunjukkan seringaiku yang terbaik, berbahagia karena kesempatan membawa satu masalah lagi untuk diurus bapakku, satu-satunya waliku.

Ibuku sudah tiada sejak kau berumur 5 tahun, entah karena apa. Aku tidak pernah ingat kehidupanku sebelum umur 5 tahun. Efek traumatis, kata orang. Yang tersisa hanya memori-memori kecil seperti hangatnya pelukan. Tapi sampai sekarang aku belum pernah merasakan perasaan seperti itu lagi.

Bapak hampir tidak pernah ada di rumah. Buatku dia preman. Setiap pulang – yang jarang terjadi – paginya pasti dia kembali berangkat ‘kerja’ dengan pakaian gembel dan dengan tampang tidak pernah mandi. Dia tidak pernah membicarakan profesinya. Tepatnya, dia tidak pernah membicarakan apapun denganku. Kami tidak pernah berbincang-bincang seperti kebanyakan bapak dengan anak. Aku tidak tahu dia sebetulnya apa, dan aku sudah menyerah berusaha mencari tahu. Yang kuingat dari dia hanyalah tatapannya yang tajam menusuk, yang tidak pernah terarah pada mataku, dan pesannya untuk belajar dengan benar.. Belajar yang benar, heh, yang benar saja.

Di ruang guru, aku disodori surat. “Sampaikan surat pemanggilan ini pada ayahmu. Awas kalau kamu sembunyikan sendiri!” Pak Bowo masih melotot. Aku hanya tertawa dalam hati sambil kembali ke kelas. Bapakku tidak pernah mengurusku! Ini bukan pertama kalinya aku mendapat surat pemanggilan, dan dari semua surat sebelumnya, belum pernah ada satupun yang ditanggapi Bapak. Bahkan mengambil raporku juga tidak pernah. Biasanya pembantuku yang mengambilkan. Ya, tapi mari kita coba saja peruntunganku kali ini. Mungkin saja Bapak bosan kali ini, dan memberi sedikit perhatian untukku.. mungkin.

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Kusambar jaket biru tuaku, sambil mengulur-ulur waktu hingga semua anak keluar dan aku menjadi yang terakhir meninggalkan kelas. Kugendong ransel hitam bututku, dan berjalan dengan santai menuju gerbang belakang sekolah yang sepi. Sudah cukup kegaduhan hari ini, rasanya aku butuh menyendiri sedikit.

Aku melangkah keluar, menyusuri trotoar sambil menunduk. Toko demi toko di sampingku aku lewati dengan tetap menunduk.

Baru saja kulewati sebuah toko emas dengan etalase kaca, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalamnya. Aku semapt tertegun dan menghentikan langkahku, tapi setelah itu tidak terdengar apa-apa lagi. Aku memutuskan untuk mengabaikannya. aku melanjutkan langkahku, namun..

PRANGG!

Segera aku membalikkan badanku. Serpihan kaca berterbangan di belakangku, bak adegan dalam film-film action. Rupanya etalase toko emas tersebut pecah, dan kini berwujud sebagai serpihan-serpihan. Aku masih tertegun melihat apa yang terjadi saat seseorang tiba-tiba melompat keluar dari toko sambil membawa ransel. Dia lari ke arahku dan tampaknya mengamatiku selama sekian detik, dan tanpa basa-basi langsung menabrakku dan menarik tanganku. Aku dipaksa berlari di sepanjang blok bersamanya.

Adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, jantungku berdegup kencang. Apa-apaan..?

Baru setelah kami mencapai ujung blok pertokoan, aku menyadari situasi dan mencoba untuk menari tanganku. Orang itu melepaskannya. Ia lalu berbelok ke sebuah gang kecil dan meninggalkanku sendirian, di bawah sebuah toko berkanopi. Aku terengah-engah, dan tidak menyadari keributan di belakangku.

Saat aku berbalik, seorang pria bertubuh besar menabrakku sampai aku terjembab ke tanah. Dengan tangkas pria itu memborgol tanganku. Belum sempat aku mencerna semua kejadian itu, aku sudah diseret ke dalam mobil polisi. Tadi itu.. toko emas. Berarti kemungkinan terjadi perampokan. Baru aku sadar. Orang yang tadi keluar dari toko itu dan menarikku.. Dia memakai jaket biru tua. Dan membawa ransel hitam. Persis seperti diriku. Aku dijebak.

Di sepanjang jalan menuju kantor polisi tidak ada yang bicara padaku. Aku juga tidak tertarik bicara pada siapapun. Aku tahu seharunya aku menjelaskan, bahwa aku tidak melakukan kejahatan apapun. Tapi percuma, toh pada akhirnya pasti aku juga yang kena hukuman. Kebijakan polisi di negara ini busuk dan berorientasi pada uang, aku tahu itu. Satu buronan tertangkap sama dengan sekantong uang. Jadi jangan harap bisa berkelit. Huh. Tapi biarkan saja. Mungkin dengan begini bapak akan memberi sedikit perhatian padaku..? Ya, tidak buruk juga.

Tapi rupa-rupanya di tengah jalan kami dicegat. Petugas yang mengendarai mobilku keluar. Dia didatangi oleh seseorang yang tampaknya berpangkat lebih tinggi darinya. Mungkin atasannya. Atasannya terlihat sedang memberinya instruksi-instruksi baru. Saat dia kembali ke belakang roda kemudi, kami tidak lagi menuju ke kantor polisi. Aku dibawa langsung ke LP. Aku tidak mengerti.

Tapi memangnya mereka peduli, aku mengerti atau tidak?

~

Sudah seminggu berlalu sejak aku masuk di LP. Aku merasa aneh tentang keberadaanku di sini. Para petugas memberi aku informasi bahwa aku akan ditahan di sini selama setahun penuh akibat tindak kriminalitas yang aku lakukan padahal tidak aku lakukan. Aneh. Bukankah seharusnya aku menjalani proses sidang terlebih dahulu? interogasi? Apakah semua adegan yang aku lihat di TV itu sebetulnya tidak ada? Tapi aku berusaha untuk tidak peduli. Petugas itu juga memberi aku informasi bahwa orangtua atau waliku telah mereka kirimkan kabar mengenai keberadaanku. Berarti Bapak seharusnya sudah tahu. Bagus.

Keadaan yang aku alami sangat aneh. Betul-betul aneh. Tiap hari ada yang datang membawakanku makanan yang bisa terbilang lumayan, mengajakku bercanda dan mengobrol, dan aku bahkan sering diizinkan keluar dari sel untuk mencari udara segar. Aku tinggal di sel sendiri, padahal biasanya satu sel diisi oleh lebih dari dua orang. Sel ku bersih, setiap hari ada yang datang membersihkannya. Aku juga diberi akses ke toilet para petugas, dan bahkan mereka membawakan aku buku-buku pelajaran dan hiburan-hiburan lain. Ini aneh. Aku tinggal disini seperti tinggal di hotel! Padahal yang aku tahu, 10% narapidana meninggal di dalam lapas karena minimnya perhatian akan kesehatan dan sanitasi mereka!

Setiap malam ada jeritan. Pemukulan. Kekerasan antar penghuni sel. Aku bisa mendengarnya. Tapi aku tidak pernah mengalami hal yang serupa. Bahkan para petugas begitu ramah terhadapku. Kenapa aku diperlakukan begitu baik?

Tapi yang jadi pertanyaanku yang utama adalah.. dimana Bapak? Apa dia tidak tahu bahwa aku di sini? Kenapa dia tidak mempedulikanku?? Dari hari pertama aku dikurung sampai hari ini, pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiranku. Tiap memikirkannya, rasanya seperti jantungku diiris-iris. Aku marah. Aku dendam. Bapak macam apa dia? Kenapa dia meninggalkan aku? Kenapa dia tidak pernah ada untukku!? Setidaknya bukankah seharusnya dia berusaha memperjuangkan nasibku? Sebagus apapun tempat ini, penjara tetaplah penjara! Tidakkah sedikitnya dia peduli? Aku benci harus diperlakukan seperti ini!

~

Hari itu minggu pagi, dan seperti biasa, aku disuruh keluar dari sel untuk menikmati udara luar sementara para narapidana lain meringkuk dalam sel mereka.

Hal yang lebih aneh lagi adalah bahwa hari ini penjaga yang bertugas hampir tidak terlihat. Jumlah penjaga yang biasanya banyak hingga selalu ada di tiap sudut, hari ini tiba-tiba menipis hingga tinggal satu-dua orang. Harusnya sekarang adalah jam patroli, tapi hanya ada satu petugas yang berpapasan denganku tadi. Aku melangkahkan kakiku ke arah lapangan berpagar di depan. Kulihat gerbang keluar.. dan terkejut. Gerbang tidak dikunci. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kupacu kedua kakiku, memaksa diriku berlari keluar.

Aku berhasil. Aku tidak percaya aku berhasil. Aku sudah di luar! Aku sekarang bisa pulang! Lihat saja, aku akan balas dendam pada Bapak. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku akan melakukannya. Sebagai balasan atas semua ketidakpeduliannya selama ini. Sebagai pelampiasan amarahku sebagai seorang remaja yang ditinggalkan Bapaknya!

Setelah beberapa meter berlari, terdengar sirene dari LP. Apa mereka mencariku? Menyadari aku menghilang? Ha, kejar saja kalau mau. Aku sudah berada di jalan raya, dan sebentar lagi aku akan mencapai pemukiman penduduk dan segera membaurkan diri. Cara saja sampai dapat!

Aku berlari pontang-panting, tanpa menyadari, sebuah mobil tengah melaju kencang menuju ke arahku. Pengendara mobil tersebut seolah tidak melihatku, malah sepertinya menambah kecepatan. Saat aku menyadarinya, sudah hampir terlambat. Moncong mobil sedan hitam itu sudah hampir mengenaiku. Aku menutup mata, siap menerima nasibku.

Setelah beberapa detik yang dipenuhi suara rem dan perasaan melayang, aku merasa dadaku tertumbuk keras dan aku terjatuh di tanah yang kasar.

Apa aku sudah mati? Sebaiknya begitu…

Tapi aku membuka mataku. Aku melihat bahwa yang menumbuk dadaku ternyata bukanlah bemper mobil, tapi seorang pria paruh baya. Mataku terbelalak. Seseorang telah menyelamatkanku! Pria ini telah menghalangi mobil itu dan mendorongku menjauh! Aku segera bangkit, berusaha mencapai sang pria. Terlihat darahnya tercecer dimana-mana. Justru dia yang tertabrak mobil itu! Saat sudah dekat, kulihat pria itu bergerak. Dia masih hidup! Aku segera berlutut di sampingnya, berusaha membantunya sebisaku.

Terdengar suara pintu mobil dibuka. Pria penyelamatku itu mengangkat wajahnya dan melihatku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ternyata mataku dipenuhi air mata kelegaan. Tapi tiba-tiba pria itu kembali menerjangku, hingga aku kembali terjatuh, dan dia menindihku. Aku berusaha berontak namun kulihat sang pengendara mobil telah turun dan mengangkat sesuatu di tangannya ke arah kami. Seketika itu juga terdengar suara keras. Aku mengenalinya.. suara tembakan pistol.

Pria yang menindihku tersentak, dan wajahku terciprat cairan merah.

Dia baru saja menahan peluru dari pistol si pengendara mobil untukku.

Aku baru menyadari.. aku mengenal wajah pria yang menindih badanku. Bapak.

~

Aku sempat marah pada bapak saat menyadari dia telah menyelamatkan nyawaku. Kenapa harus dia!? Kenapa dia yang begitu aku benci, malah menyelamatkan aku? Dimana dia sebelumnya? Kenapa dia muncul dan menyambut maut di depanku!? Apa dia ingin melepas tanggung jawabnya sebagai seorang bapak cepat-cepat?! Itukah yang dia mau?!

Tadinya aku tidak mau menemui Bapak di rumah sakit. Tapi pembantuku memaksaku. Katanya aku seorang anak laki-laki. Harus jantan menerima kenyataan. Dan akhirnya aku menemuinya saat keadaannya mulai stabil.

Tanpa kuduga, bapak menitikkan air mata saat melihatku memasuki kamarnya. Aku tidak tahan melihat tangisan di matanya yang biasanya begitu tegas dan menusuk. Tak terasa air mataku ikut membuncah. Tapi aku menahannya. Setelah beberapa menit yang menyiksa, Bapak akhirnya angkat bicara.

“Maafkan aku.”

Dadaku bergemuruh. Perasaan marah, kecewa, rindu, dan kesedihan menyerbu memasuki dadaku. Aku memandangi matanya. Penuh air mata, penuh penyesalan. Matanya terarah pada mataku. Dia tidak pernah bicara padaku sambil memandangku sebelumnya. Kali ini matanya memandangku, dan hanya aku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memukuli ranjang tempat dia berbaring, melampiaskan semua rasa frustrasiku selama ini. Tapi Bapak menggenggam tanganku. Dia menangis bersamaku.

Setelah aku tenang, Bapak akhirnya bercerita. Dia menceritakan tentang profesinya, bahwa dia adalah seorang anggota elit kepolisian. Ibu dulu terbunuh akibat berusaha menutupi keberadaan Bapak. Sejak saat itu Bapak trauma, dan berusaha menutupi segalanya dariku, serta menutup diri dari banyak hal. Dia tidak mau kembali kehilangan seseorang yang ia sayangi. Tapi hatinya terus terusik. Dia bercerita bahwa dia selalu memperhatikanku hampir setiap saat, bahkan waktu aku tidak menyadarinya. Dia mengikutiku berangkat sekolah, jika ada waktu juga menungguiku sampai tertidur dari balik pintu pada malam-malam yang gelap. Dia jugalah yang mengatur keadaanku di LP. Dia berusaha menjagaku setiap hari, tanpa aku mengetahuinya.

Bapak berkali-kali mengucapkan maaf karena ketidakmampuannya menjadi ayah yang baik selama ini. Bapak meminta maaf untuk malam-malam di mana dia tidak berani menemaniku, tidak ada di sisiku saat aku memanggil-manggil dia dalam mimpiku.

Aku hanya bisa terdiam.

Pada hari ketika aku kabur dari LP, sebuah geng preman yang cukup besar sedang melakukan teror pada masyarakat di pemukiman dekat LP. Mereka berusaha melakukan pembantaian serta teror besar-besaran, dan bapak ditugaskan untuk membereskan hal tersebut. Pemimpin mereka melarikan diri, dan tim dari LP diminta bantuan untuk melacaknya. Tapi alangkah terkejutnya Bapak saat tahu bahwa anaknya telah kabur dari LP. Karena kalut, dia langsung terjun saat menemukanku.

Tenggorokanku tercekat. Aku kembali menitikkan air mata. Kemarahanku luntur bersama tiap tetesnya, digantikan penyesalan.

~

Hari ini adalah hari penguburannya. Dia tidak tertolong. Aku ingin meraung. Menangis, berteriak. Tapi tidak ada gunanya lagi. Kulihat nisan yang di depanku dan orang-orang yang berdiri berjajar di sampingku. Aku hanya bisa membiarkan air mataku mengalir, terus dan terus.

Aku mengingat perbincangan kami di rumah sakit setelah dia menceritakan semua yang tidak aku ketahui.

“Kenapa mencelakakan diri sendiri?” tanyaku.

“Jawabannya ya sederhana saja, nak, Karena saya masih bapakmu. Saya sayang sama kamu.”

Aku hanya bisa tertegun dan melotot. Rasa hangat memenuhi rongga dadaku.

Tepat setelah dia mengucapkannya, dia tersenyum.

Dan meninggalkan dunia, untuk selamanya.

Tangannya tetap menggenggam tanganku.

Dan kini, akhirnya.. dengan senyuman yang payah dan air mata menghiasi wajahku, aku akhirnya bisa mengucapkan balasannya.

Terimakasih, Pak. Aku tidak akan lupa sama Bapak.

Akhirnya aku juga sayang Bapak..

~Fin~

Jeng jeng..

Maaf kalau ceritanya agak lebay, tapi semoga tetap bisa dinikmati :’D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s