Hardworks will be paid

greetings everyone, it’s been a really long wait, isn’t it ? 😥 i made so many stories and my head was always fulled with ideas, but i just can’t finish everything on time and those ‘brilliant’ ideas evaporate as soon as I shut my laptop down . that’s annoying .. haha so here’s a one shot story, a story when you don’t have to wait to see other parts coming. it’ll take too long and my ideas would .. well, evaporate. again. lol. so here it is. enjoy 🙂

-oOo-

Marge tiba-tiba berhenti berlari. “hey. Ada apa?” tanyaku, sambil menghirup udara segar pagi hari. Marge memutar matanya.Aku sudah mengenalnya hampir seumur hidupku, jadi aku tau tanda apa itu – Tanda bahwa ia akan menyatakan sesuatu yang tidak masuk akal baginya. Ia menghela napas, membungkuk dan mengikat tali sepatu putihnya, dan tiba-tiba mendongak dan angkat bicara. “jangan berusaha lari lagi.” Aku tercengang. Aku berusaha mencari kilat jenaka di matanya yang coklat gelap itu. “maksudnya?” “jangan lari lagi. Udah cukup. Ga bakal bisa lagi. Jangan berusaha lagi sebelum lu malah patah hati karena kalah.” Aku tidak menemukan kilat jenaka itu. raut mukanya serius. Dia tidak bercanda. “Marge, lu ga apa-apa kan?” tanyaku, berusaha memastikan keadaannya. Marge berdiri, mengibaskan rambut ikalnya yang panjang dan menepuk bhuku, sambil tetap menunjukkan raut wajah yang sangat serius. “gw gapapa. Lu yang apa-apa. Gini ya, biar gw bangunin lu dari mimpi lu. Dalam beberapa hari lagi, bakal ada acara lomba lari musim panas, dan lu bakal ngelawan Stevia. Inget ini. Lawan lu sekarang Stevia, sayang. Atlet nasional. Lu masih berusaha? Lu Cuma ngabisin waktu, say. Gw ngasih tau lu bukan untuk bikin lu down ato apa, gw Cuma berniat baik sama lu.” Marge menggelengkan kepalanya. Ia memandangiku, dengan wajah berharap mati-matian bahwa aku setuju dengannya. Aku menggeleng keras. Sambil berkacak pinggang aku akhirnya harus berbicara dengan nada yang cukup keras. “Marge, lu ga ngerti. Ini mimpi gw, jadi biarin gw yang melakukan apa yang mau gw lakukan.” Aku mengernyit, dan melanjutkan latihan lari rutinku, tanpa mengindahkan kata-kata Marge barusan..

Keesokan paginya di sekolah..

An menghampiriku. Dia sahabatku, hampir seperti Marge, aku mengenal dia sepanjang hidupku. “Hey.” An menyapa sambil mengedipkan sebelah matanya dan duduk di hadapanku. Gadis dengan rambut hitan legam yang lurus dan panjang itu tersenyum. Mata hitamnya berbinar, penuh dengan rasa ingin tau. Aku menutup buku yang sedang barusaha kubaca, dan membalas sapaannya. “Hey juga.” Aku tersenyum. An terlihat sangat rapi. Penampilannya seolah berbicara sangat banyak tentang betapa hebatnya gadis cantik ini. Dia adalah salah satu murid paling cemerlang di sekolah. Seperti kusebut tadi, penampilannya berbicara banyak tentang kehebatannya. Dan anehnya, dia juga seolah punya insting yang hebat dibalik ratusan neuron otaknya, yang selalu tau jika aku mengalami sesuatu. Akhirnya aku angkat bicara. “angin apa yang ngebawa lu kesini?” tanyaku. An mengangkat bahunya. “bukan angin apa-apa. Hehehe.gimana latihan lari bareng Marge kemaren?” dia langsung bertanya tanpa basa-basi lebih lanjut lagi. Matanya menunjukkan rasa penasaran yang sangat besar. “hmmm, oke.” Aku menjawab. Dahi An mengerut, dan matanya menyipit. “jangan bohong. Bohong dosa lho.” Yah, itulah bukti kehebatan An; dia tau segalanya. “ga apa-apa kok” kataku tersenyum jahil. An langsung menunjukkan raut wajah kesal. “cepetlaah, gw ga punya banyak waktu tau! Bel udah mau bunyi nih. Ayolah, kasi tau gw!” aku tidak tahan lagi. Akhirnya aku memberitahunya. Aku berusaha tidak menunjukkan rasa kecewaku sambil berusaha menjelaskan. “yah, kemaren dia nyuruh gw berenti berusaha.” Aku bersusah payah agar An tidak melihat dahiku yang mengernyit penuh kekesalan. Aku mengangkat bahuku, dan memutar mataku.  An menghela napasnya. “kenapa dia ngomong gitu?” “yaaa, lu kan tau. Gw kan cuma juara ‘atlet’ lari di kalangan kelurahan aja.. Stevie udah jadi atlet nasional, An. Ketemu bukan sama orang Jawa, ketemu sama bule! Bukan level gw lah. Gw rasa mungkin Marge bener juga.” Aku menghela napas. An meraih tanganku yang berada di atas meja, dan bertanya dengan lembut. “jadi dengan pernyataan begitu, lu memutuskan kalo lu mau berenti ngejer mimpi lu?” tanya An tepat sebelum bel berbunyi. Ia segera berlari ke kelasnya sendiri. Aku memutar mataku. Kesal rasanya. Kenapa Stevia datang ketika aku mulai yakin kalau aku punya kemampuan untuk mencapai mimpiku, menjadi atlet yang dikenal di seluruh dunia?? Aku menggelengkan kepala. Rasanya bahkan kepalaku terlalu berat untuk digelengkan. Sepanjang pelajaran rasanya sangat melelahkan. Beruntung bagiku, bel akhirnya berdering, tanda istirahat panjang. Kelas pagi sudah selesai. Aku segera merapikan barang-barangku, dan beranjank keluar kelas yang penat. Aku berusaha tetap membuka mataku sepanjang perjalanan ke kamar asramaku, melintasi lapangan rumput yang luas. Kepalaku sangat sakit, bahkan aku sampai harus melepas ikat rambutku, berharap rasa sakitnya akan berkurang sedikit. Tapi tidak terjadi apa-apa. Jadi kuputuskan untuk beristirahat saja di asrama, dan meminta izin untuk tidak mengikuti pelajaran. Rasanya sepatu sekolahku yang ringan itu menjadi sangat berat hari ini, dan seragamku yang terbuat dari bahan berkualitas itu terasa sangat mengganggu dan membuatku merasa sangat gerah. Aku melangkah secepat yang aku bisa, menuju asrama..

Tirai jendela tidak kubuka, dan lampu kumatikan. Cahaya matahari berusaha menerobos masuk lewat celah-celah jendelaku dan juga celah pintu kamarku, membuat kamarku tampak remang-remang. Aku duduk di ranjangku, menghadap meja belajarku dan memunggungi jendela kamarku. Aku sudah melepaskan cardigan yang merupakan bagian dari seragamku, beserta dengan dasi merah yang berkilau yang juga merupakan bagian dari seragamku. Aku merasa sedikit lebih baik. Aku memperhatikan meja belajarku yang rapi. Salah satu lajur cahaya yang menerobos masuk kamarku jatuh di meja belajarku. Cahaya tersebut begitu indah. Dan aku baru saja menyadari satu hal.. Cahaya itu menyorot fotoku dengan Reine, sepupuku yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Ia pernah tinggal di asrama ini. Di foto itu kami tampak begitu dekat dan bergembira. Oh ya, aku perlu menambahkan.. Reine lumpuh seumur hidupnya, dan ia harus menggunakan kursi roda automatis kemanapun dia pergi.. aku ingat persis, bahwa dia tidak pernah mengizinkan siapapun mendorong kursi rodanya kecuali orang-orang yang tinggal di rumahnya dan.. aku. Tidak ada orang luar yang diperbolehkannya mendorong kursi rodanya kecuali aku. Tidak ibuku, tidak ayahku, tidak teman-teman seasramanya. Tidak juga adik-adikku. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mendorong kursi rodanya. Ia sangat pendiam dan tidak begitu suka berada di dekat orang lain. Dia biasanya menjalani hari-harinya dalam diam, dan menghabiskan waktu luangnya dengan membaca. Dia anak yang sangat mandiri, terbukti dari kenyataan yang tadi kusebut, bahwa dia tidak mau kursi rodanya didorong oleh orang lain. Tapi dia mengizinkanku untuk melakukan hal itu.. Dan aku ingat persis kenapa aku diperbolehkan mendorong kursinya.

Saat itu hujan gerimis. Aku berlari memasuki asrama lewat lorong taman, satu-satunya akses keluar masuk dari gedung sekolah ke gedung asrama perempuan. Lorong itu dipenuhi dengan tanaman bunga di sisi kanan dan kirinya dan sulur-sulur tanaman membentuk atapnya. Lantainya dari marmer yang sudah lumayan tua dan memiliki banyak retakan. Dan saat aku berlari menerobos hujan di lorong itu, aku menemukan Reine sedang berusaha keras mengeluarkan kursi rodanya dari salah satu retakan. Ia terjebak disana, dan ia menangis. “hey.. ada apa?” aku berusaha mendekatinya. “pergiii! Jangan deket-deket gw!” aku terlonjak. Ia berteriak padaku.”ayolah. lagi ujan nih, nanti masuk angin!” aku berusaha mendekatinya lagi. “PERGI!! JANGAN GANGGU GUE!!” dia berteriak, lagi. Aku rasa sekarang aku tau kenapa sejak tadi tidak ada yang datang menolongnya. Tapi entah menagapa, aku hanya diam di tempatku, tidak beranjak kemanapun. “PERGII!!! PUNYA KUPING KAN!?” dia berteriak lagi. Aku menghela napas. “ya, punya. Gw mau disini aj, ngeliat gimana caranya lu keluar dari situ. Alias, gw bakal nungguin lu sampe keluar dari situ.” Aku menjawab dengan ringan. Reine tidak lagi memperhatikanku. Ia berusaha keluar dai retakan itu. Ia mencoba mendorong, menarik, memukul remote kursinya, bahkan berusaha menggerakkan kakinya. Pada akhirnya, setelah kira-kira sepuluh menit aku memperhatikannya, ia menyerah, dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa hatiku teriris melihatnya. Aku mendekatinya. Tanpa banyak bicara, aku menarik kursinya dan mengeluarkannya dari retakan itu. Ia tidak mengelak. Aku akhirnya mulai berbicara. “ada apa sih?”Reine masih terisak. Ia menjawab di sela-sela isakannya. “Lu ga akan ngerti lah..” ia menangis lagi. “yah, paling ngga kasih tau gw apa yang bikin lu sampe nangis begini?” aku bertanya dengan lembut, berusaha tidak melukai hatinya. Dan ia bercerita.

“gw suka nulis.. lu tau kanjadi gw daftar ke group ekskul menulis. Mereka nyuruh gw nulis cerita trus diserahin ke pemimpin grup.jadi gw laksanain. Gw sampe begadang, ga tidur demi nyelesaiin cerita itu. Trus besoknya,gw serahin deh.pemimpin grup itu nyuruh gw nunggu sampe dua hari.ini hari keduanya. Hari ini gwketemu sama dia, trus nanya gimana keadaan gw, apa gw diterima. Dan jawabannya gampang aja, ‘tulisanmu bagus banget, bener-bener bagus.Mengagumkan buat gw. Sebenernya kamu bisa diterima dengan baik di group kita,tapi sayangnya markas group kita di lantai 5, dengan kata lain, kamu ga akan pernah bisa kesana. Jadi tulisan kamu kukirim ke lomba menulis di Fahrenheit Club International, atas namaku, atau tepatnya nama sekolah kita, dan menang disana. Ga apa-apa kan? Toh lu juga ga bisa masuk ke group, jadi.. begitulah. Makasih ya, udah ngasih tulisan sebagus itu!’trus dia senyum dan pergi, kaya ga ada aa-apa…” ia kembali menangis sejadi-jadinya. Aku hanya terdiam,sambil mendorong kursi rodanya. Aku yakin, ini pertama kalinya seorang yang tidak tinggal seatap dengannya mendorong kursi rodanya. Aku berusaha membayangkan.. seperti apa ya, perasaannya saat itu? Kalau aku yang merasakannya, aku pasti sudah membakar habis orang yang berani melakukan hal sekotor itu. Kemudian aku ingat perkataan ibuku sebelum aku masuk ke sekolah ini untuk yang pertama kalinya.Akupun angkat bicara. “you know..don’t worry too much if someone dumped you. Believe me, everything that you’ve tried and your hardwork will be paid.. no need to worry. Jangan terlalu khawatir kalo seseorang menjatuhkan kamu. Percaya deh, semua yang udah kamu coba dan semua kerja keras kamu pasti terbayar.. ga perlu khawatir. Walaupun  keliatannya ga ada yang peduli, atau bahkan rasanya sia-sia, tapi lu harus tetep yakin, every hardwork will always be paid. Setiap kerja keras pasti kebayar.Jangan berhenti mengejar cita-cita Cuma gara-gara hal itu.keep on trying, cause every hardwork will be paid. Tetep coba terus, karena semua kerja kerasmu pasti bakal terbayar” aku kembali bersatu dengan kesunyian. Tiba-tiba Reine menyuruhku berhenti. “udah, dorongnya sampe sini aja.gw bakal nungguin lu besok disino.jangan sampe telat! Soalnya lu bakal ngedorong kursi roda ini lagi.” Katanya, meninggalkanku. Dan aku baru menyadarinya ; dia tidak terisak lagi. Aku tersenyum.

Dan aku ingat persis, setelah hari itu, Reine selalu menungguku di lorong, di tempat yang sama setiap hari, menungguku untuk mendorong kursinya, sambil bercerita dengannya. Dan pada akhirnya, Reine diangkat menjadi group leader menggantikan penipunya, karena baru diketahui bahwa perempuan itu tidak hanya menipu Reine, tapi juga banyak anak-anak lainnya yang berusaha masuk ke dalam group tersebut.

Aku tersenyum mengingat hal itu. Dan aku sadar, bahwa aku tidak boleh berhenti berusaha. Walaupun pada akhirnya aku akan kalah dari Stevia, aku tidak akan berhenti berusaha, cause every hardwork will be paid. Semua kerja keras pasti akan terbayar. Aku yakin akan hal itu. Segera aku bertukar pakaian, mengenakan kaos olahragaku, dan berlari ke gym untuk berlatih sebelum jam makan siang. Tinggal lima hari lagi sebelum pertandingan. Aku harus bekerja keras. Aku tidak akan menyerah.

Dan akhirnya hari itupun tiba. Aku berlari dengan sekuat tenaga, sepenuh hati. Dan…

Aku kalah. Tentu saja. Tidak mungkin aku mengalahkan Stevia. Tapi aku tetap bangga pada diriku sendiri, karena aku telah melakukan yang terbaik dan tidak menyerah. Dan keesokan harinya, pelatih Stevia meneleponku, menawariku untuk bergabung di klub pelatihan untuk atlet nasional. Mimpiku jadi nyata. Aku berhasil melewati test masuk klub, dan aku yakin, suatu hari aku akan berlari sambil membawa nama negaraku di kejuaraan internasional….. well, just remember, every hardwork will be paid. Jangan menyerah! 🙂

-oOo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s